Ada tiga metode risk management tools, yaitu: cut loss, switching, dan averaging.

1. Cut Loss

Teknik ini dilakukan dengan cara menutup transaksi yang merugi sesegera mungkin dengan tujuan untuk menghindari resiko kerugian yang lebih besar.

Berikut ilustrasinya:

cut loss

cut loss

2. Switching

Teknik dilakukan dengan cara menutup posisi yang rugi dan segera mengambil posisi baru yang searah dengan pergerakan harga selanjutnya. Idenya adalah untuk me-recovery kerugian yang diakibatkan oleh posisi transaksi sebelumnya. Teknik ini lebih efektif apabila dilakukan ketika terjadi perubahan arah harga yang cepat dan drastis.

Berikut ilustrasinya:

switching

switching

Lakukanlah teknik ini bila Anda sudah benar-benar yakin bahwa pasar akan bergerak cukup kencang, sebab dengan melakukan teknik ini berarti Anda membuka satu posisi baru lagi yang tentu dibayangi resiko kerugian jika ternyata pasar berbalik arah lagi. Kematangan analisis dan tingkat kesiapan mental turut mempengaruhi kesuksesan teknik ini.

3. Averaging

Averaging (atau disebut juga sebagai ‘cost-averaging’) merupakan teknik manajemen resiko yang cukup ekstrim karena pada dasarnya teknik ini mencoba untuk “melawan” pasar. Ide dasarnya adalah pasar tidak mungkin bergerak ke satu arah saja untuk selamanya.

Berikut ilustrasinya:

averaging

averaging

Ingat: teknik ini sangat beresiko. Teknik ini sangat tidak dianjurkan bagi para trader yang memiliki dana minim.

Pengembangan Strategi Averaging

Setidaknya ada tiga teknik yang dikembangkan dari strategi averaging, yaitu pyramiding, martingale dan anti-martingale.

a. Pyramiding

Pyramiding merupakan kebalikan dari cost-averaging. Jika pada cost averaging satu posisi terbuka ditambahkan setiap kali mengalami kerugian, maka dalam pyramiding posisi terbuka tersebut justru ditambahkan setiap kali mendapatkan keuntungan.

Berikut ilustrasinya:

Pyramiding

Pyramiding

Teknik ini akan efektif jka digunakan pada saat pasar berada dalam keadaan trending. Teknik ini tidak akan efektif bila Anda gunakan jika pasar berada dalam keadaan sideways.

b. Martingale

Jika tadi Anda sudah mempelajari teknik averaging yang merupakan teknik yang ekstrim, maka teknik martingale ini merupakan teknik yang lebih ekstrim lagi. Dengan teknik ini, Anda bukan saja akan menambah posisi baru setiap mengalami kerugian namun juga melipatgandakan jumlah transaksinya.

Berikut ilustrasinya:

Martingale

Martingale

Berbeda dengan teknik pyramiding, teknik ini justru lebih efektif jika digunakan pada saat pasar dalam keadaan cenderung sideways.

c. Anti-martingale

Teknik ini mirip dengan teknik pyramiding, hanya saja jumlah transaksinya dilipatgandakan setiap penambahan keuntungan. Teknik ini juga akan lebih efektif jika digunakan pada saat pasar dalam keadaan trending.

Berikut ilustrasinya:

Anti Martingale

Anti Martingale

Money Management

Money management ini sebenarnya merupakan bagian dari trading plan. Mengingat tingginya resiko yang akan Anda hadapi di pasar, maka Anda harus memiliki strategi pengelolaan dana yang tepat.

“OK. Saya paham bahwa manajemen modal itu penting. Lalu bagaimana semestinya saya mengelola modal saya?”

Apakah pertanyaan itu yang sekarang ada di benak Anda? 🙂

Sebenarnya ada banyak cara mengelola uang Anda, namun kuncinya tetaplah pembatasan resiko. Berikut ini adalah salah satu metode manajemen modal yang bisa Anda terapkan.

Anggaplah Anda memiliki dana sebesar $10,000 di akun Anda. Lalu Anda tetapkan resiko maksimal untuk setiap transaksi, katakanlah 5% per trade. Ini artinya adalah kerugian maksimal yang mungkin akan Anda derita setiap transaksi adalah sebesar 5% x $10,000 = $500. Jadi, resiko untuk setiap transaksi yang Anda lakukan tidak boleh lebih dari $500.

Seandainya transaksi pertama Anda mengalami kerugian, maka dana Anda masih tersisa sebesar $9,500. Nah, jika Anda ingin melakukan transaksi lagi dengan pembatasan resiko 5% per trade, maka resiko maksimum untuk transaksi selanjutnya adalah sebesar 5% x $9,500 = $475. Demikian seterusnya: pembatasan resiko sebesar 5% itu berdasarkan modal terakhir yang dimiliki.

Selain itu, ada baiknya Anda juga membatasi resiko maksimum dari modal Anda. Misalnya dengan dana $10,000 itu tadi Anda membatasi resiko sebesar 50%, maka sebaiknya Anda berhenti trading atau melakukan evaluasi jika Anda mengalami kerugian hingga $5,000.

Model manajemen modal yang dijelaskan di atas bisa kita sederhanakan dengan menggunakan tabel sebagai berikut.

Modal Awal : $10,000
Resiko Maksimum dari Modal Awal : $5,000 (50% dari modal awal)
Resiko per trade : 5%

Misalkan transaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Trade Loss (USD) Balance (USD)
1 500.00 9500.00
2 475.00 9025.00
3 451.25 8573.75
4 428.69 8145.06
5 407.25 7737.81
6 386.89 7350.92
7 367.55 6983.37
8 349.17 6634.20
9 331.71 6302.49
10 315.12 5987.37
11 299.37 5688.00
Total 4312.00 (Loss)

Berdasarkan manajemen modal di atas, Anda memiliki peluang untuk melakukan 11 kali transaksi sebelum mencapai resiko 50% dengan asumsi bahwa ke-11 transaksi tersebut loss semua. Masing-masing kerugian sebesar 5% dari Balance terakhir.

Risk-to-reward ratio

Setelah menetapkan pembatasan resiko, barulah kemudian tatapkan target profit Anda. Jika Anda menetapkan batasan resiko sebesar 5% seperti contoh di atas, maka sebaiknya target profit tidak lebih kecil daripada alokasi resikonya. Misalnya, jika resiko per transaksi Anda adalah sebesar 5%, maka Anda bisa menargetkan profit sekitar 6% atau 10% misalnya. Boleh saja jika Anda hanya menargetkan profit sebesar 5%, namun yang perlu Anda ingat adalah jangan sampai resiko menjadi lebih besar daripada peluang. Dengan kata lain, tidaklah bijaksana jika Anda menargetkan keuntungan hanya 4% sementara resiko Anda sebesar 5%.

Perbandingan antara resiko dengan potensi keuntungan ini biasa disebut dengan istilah “risk-to-reward ratio”. Misalnya, jika resiko transaksi Anda 5% namun target keuntungan Anda adalah 10%, maka “risk-to-reward ratio” Anda adalah 1:2.

Win-loss ratio

Sebagaimana yang telah Anda ketahui, tidak mungkin ada analisis yang selalu tepat. Ada saat-saat ketika prediksi Anda meleset. Pada keadaan seperti itu, sangat mungkin Anda akan mengalami kerugian.

Mari kita refresh lagi ingatan kita mengenai sistem trading. Sistem trading yang Anda gunakan haruslah sistem trading yang sudah Anda pelajari dan kuasai. Lebih penting lagi, sistem trading yang Anda gunakan haruslah sistem trading yang sudah terbukti profitable, dengan kata lain sistem bahwa tersebut memiliki akurasi yang cukup baik.

Apa artinya “akurasi yang cukup baik”?

Dengan istilah yang sederhana, tingkat akurasi suatu sistem trading bisa diukur melalui “win-loss ratio”.

Apa itu “win-loss ratio”?

“Win-loss ratio” adalah perbandingan antara transaksi profit dibandingkan dengan transaksi yang merugi. Sebagai contoh: sistem trading Anda menghasilkan lima kali profit dan lima kali loss dalam 10 kali transaksi berturut-turut. Ini artinya bahwa sistem trading yang Anda miliki memiliki win-loss ratio 1:1.

Tentu saja win-loss ratio 2:1 lebih baik daripada1:1, namun perlu disadari bahwa akurasi bukanlah segalanya dalam trading. Dengan bantuan money management dan risk-to-reward ratio yang baik, win-loss ratio 1:1 pun masih bisa menghasilkan akumulasi profit.

Bagaimana bisa?

Mari kita lihat skenario yang disajikan tabel berikut ini:

Modal Awal : $10,000
Resiko Maksimum dari Modal Awal : $5,000 (50% dari modal awal)
Resiko per trade : 5%
Target profit per trade : 6%

 

Hasil (misal):

Trade P/L (USD) Balance (USD)
1 -500.00 9500.00
2 -475.00 9025.00
3 541.50 9566.50
4 573.99 10140.49
5 -507.02 9633.47
6 578.01 10211.47
7 -510.57 9700.90
8 -485.04 9215.85
9 552.95 9768.81
10 480.00 10248.81
Total 248.81 (Profit)

Sebagai catatan, resiko per trade sebesar 5% tersebut di atas adalah angka maksimum. Bisa saja nantinya transaksi yang Anda lakukan hanya mengalokasikan resiko sebesar 4% atau lebih kecil lagi, tergantung pada situasi pasar atau kekuatan sinyal yang muncul dari sistem trading Anda.

Nah, pertanyaannya sekarang mungkin adalah: berapa lot per trade?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda harus kembali lagi ke money management yang telah ditetapkan sebelumnya.

Misalnya Anda memiliki modal sebesar $10,000 dengan pembatasan resiko per transaksi adalah 5% ($500).

Lalu sistem trading Anda menunjukkan sinyal buy atau sell, dengan batasan stop loss berdasarkan analisis teknikal (support/resistance) sejauh 50 pips dari level entry Anda. Dengan asumsi bahwa 1 pip adalah setara dengan $1 (mini account), artinya stop loss sebesar 50 pips tersebut senilai dengan $50.

Padahal, resiko per transaksi yang sudah Anda tetapkan adalah sebesar $500 (5% dari $10,000). Dengan demikian, Anda bisa melakukan transaksi sebanyak 10 lot mini account (perhitungannya: $500 dibagi $50).

Contoh lain: batasan stop loss berdasarkan support/resistance adalah sejauh 100 pips dari level entry Anda. Artinya resiko yang dihadapi adalah sebesar $100 (asumsi 1 pip = $1).

Padahal, resiko per transaksi sudah ditetapkan sebesar $500 (5% dari 10,000). Berdasarkan situasi tersebut, berapa lot yang boleh Anda pergunakan untuk transaksi?

Benar. Anda hanya boleh melakukan transaksi sebesar 5 (lima) lot saja. Perhitungannya adalah: $500 (resiko per transaksi) dibagi $100 (stop loss).

Demikianlah caranya.

 

Sumber : Foreximf.com